Oh Snap!

Please turnoff your ad blocking mode for viewing your site content

Kang Santri

Hanya Tulisan Sepenuh Santri

img

Gusdur dan Felix Siauw, Apa Bedanya?

/
/
/
/
aside
89 Views

Barusan saya telah menyaksikan video berdurasi setengah jam yang diunggah di akun Youtube Felix Siauw. Terus terang, saya kagum dengan  pembawaan dan alur cerita yang disampaikan oleh beliau. Diksi yang digabung dengan penggiringan logika menjadi kekuatan utama dari apa yang beliau sampaikan untuk mempengaruhi pandangan masyarakat soal kasus penolakan beliau di Bangil.

Namun teramat sayang, seluruh kata – kata yang beliau sampaikan tidak ada satupun yang mendamaikan, tidak ada satu kalimat pun yang mengindikasikan ikhtiar untuk tetap terjaganya kerukunan sesama warga Indonesia. Dalam video tersebut, teramat jelas beliau berusaha mendiskreditkan polisi, memotong video untuk menegaskan bahwa POLISI SALAH, POLISI TIDAK ADIL dan SAYA TERDZALIMI OLEH POLISI. 

Setelah mencoba menghitamkan wajah kepolisian kemudian dilanjutkan dengan mempertontonkan aksi Banser dan Ansor yang marah kepada beliau. Beliau pun menebar tuduhan bahwa pembubaran HTI adalah konspirasi politik penguasa seolah HTI adalah ormas bersih yang menjadi korban ketidak adilan rezim waliyul amri bangsa ini

Jika kita jernih dalam berfikir. Beliau tidak berusaha mendamaikan suasana seperti yang nabi Muhammad ajarkan  seperti ketika beliau mencegah Umar bin Khotob untuk membunuh orang kafir yang telah menyakiti sang Nabi……? Ustadz Felix yang mengaku 15 tahun berdakwah semenjak muallaf justru mempertontonkan kesalahan orang lain, beliau ingin agar Banser, Ansor dan Polisi yang mana merupakan garda terdepan penjaga NKRI yang berdasarkan Pancasila telah melakukan kedzaliman dan karenanya wajib dibenci dan dipersalahkan.

Ada sedikit aroma dendam yang berkecamuk dihatinya, lihat saja wajah beliau. Raut muka penuh kemarahan tergambar jelas dari pembawaan baliau saat membuat video tersebut.

Mari kita bandingkan dengan GUSDUR.

Jangan dik ira warga NU tidak pernah kecewa karena tindakan penguasa. GUSDUR adalah tokoh besar NU. Beliau pernah memimpin organisasi islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Beliau juga merupakan presiden kala itu, namun, ia kemudian dilengserkan dari kursi kepresidenan yang kemudian purna ceritanya beliau diusir keluar dari istana kepresidenan. Tayangan keluarnya Gusdur dari istana kepresiden masih membekas jelas, terutama saat beliau berdiri di depan istana dengan hanya memakai celana pendek untuk meredamkan aksi pendukungnya yang siap berperang demi membela keadilan yang diinjak – injak wakil rakyat kala itu.

Kenangan itu, masih terekam jelas ketika saya masih duduk di bangku SMA. Terdapat  ratusan ribu pasukan berani mati siap bertaruh nyawa demi membela mantan ketua PBNU yang juga merupakan presiden ke-4 Indonesia. GUSDUR dituduh korupsi atas skandal Buloggate dan Bruneigate yang hingga beliau kondur ke rohmatullah, kasus tersebut tak pernah dapat dibuktikan. Sangat besar dugaan ada konspirasi penguasa yang tidak terima dengan keputusan – keputusan beliau.

Kita tentu masih ingat  tentang keputusan mendiang Gusdur soal Dekrit pembubaran DPR. Pun semoga masih ingat betapa beliau sangat berani menyebut DPR sebagai kumpulan anak TK. Hal demikian tidak pernah terjadi dimasa kepresidenan pasca pengunduran beliau.

Pada akhirnya, Gusdur tetap diturunkan atas tuduhan yang tak pernah terbukti hingga kini. Ini adalah ketidak adilan, penghinaan sekaligus kedzaliman para pemimpin negara terhadap Gusdur. dan tentu saja melukai hati para nahdliyin. Tidak tanggung – tanggung, penghinaan itu dilakukan terhadap cucu KH Hasyim Asy’ari, Mantan ketua PBNU serta seorang presiden pula. Tak heran, jika kemudian ratusan ribu pasukan berani mati turun gunung untuk membela Gusdur. Namun, disinilah perbedaan Gusdur dengan Felix Siauw. Gusdur lebih baik turun dari kursi jabatan  dan melepaskan kebenaran subjektif daripada bangsa ini terpecah belah. Jika saja mau, bangsa ini sudah banjir darah karena peperangan antar umat islam.

Gusdur dihina dengan tuduhan korupsi, di turunkan dengan tidak hormat melalui sidang paripurna MPR. Lebih terdzalimi mana antara Felix Siauw dengan Gus Dur? Gusdur dituduh mencuri uang rakyat, sementara Felix Siauw hanya diminta menandatangani surat kesediaan menerima Pancasila yang memang merupakan dasar negara ini, tidak berusaha menyebarkan ide khilafah  yang memang bertentangan dengan asas negara serta keluar dari HTI yang memang sudah dibubarkan oleh negara.

Kasus yang terjadi berkaitan dengan penolakan ceramah Felix Siauw masih secuil kisah. Namun kemudian dijadikan peluang untuk mendiskreditkan Banser, Ansor dan Polisi, termasuk pula pemimpin negara ini. Ada penggiringan opini agar masyarakat ikut membenci Banser, Ansor dan Polisi. Bisa jadi, Felix Siauw masih tidak menerima soal pembubaran HTI.

Begitulah,

Negara ini sudah kehilangan guru bangsa yang mendamaikan. Guru yang mengajarkan bahwa tidak ada kebenaran tunggal yang subjektif yang patut dibela mati – matian di dunia, sama seperti jabatan yang tak pantas diperebutkan hingga terjadi pertumpahan darah. Adanya kisruh soal orasi Felix Siauw, justru semakin membutakan mata saya betapa mulianya sang Guru Bangsa. Gusdur.

Meski pemimpin negara ini telah menyakiti hati saya dan jutaan warga Nahdliyin, kami, Ansor Banser diajarkan untuk tetap  taat kepada umaro. Kami…. diajarkan untuk tetap menjaga NKRI apapun yang terjadi. Kami tidak akan dendam dan kami akan tetap membantu bangsa ini untuk tetap berdiri tegak dalam naungan NKRI dan pancasila.

Jayalah Ansor Banser.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

It is main inner container footer text