Oh Snap!

Please turnoff your ad blocking mode for viewing your site content

Kang Santri

Hanya Tulisan Sepenuh Santri

img

Ustads Felix Siauw, Khilafah Mana yang Kau Pamerkan?

/
/
/
261 Views

ILC edisi 5 Desember 2017 yang bertajuk ” 212 : Perlukah Reuni?” membuat saya kembali  berdecak kagum khususnya kepada beliau Al Mukarom Al Ustadz Felix Siauw. Satu hal yang saya kagumi dari beliau adalah kemampuan linguistiknya yang mampu menggiring opini sesuai dengan logika yang ia tawarkan. Khilafah adalah harga mati sebagai tanda utama bagi keimanan seseorang. Bagi antum antum semua yang menolak khilafah, maka bagimu telah menyelisihi sunnah. Lalu, di tengah pembicaraan beliau, eksistensi Banser dan Ansor kembali diusik dengan munculnya kata “penolakkan” “pembubaran” dan “ketakutan pihak tertentu pada khilafah” atas ceramah beliau. Sekali lagi, penggiringan opini bahwa Ansor banser adalah pembubar pengajian terus saja disebarkan. Tak perlu heran memang, karena Ansor dan Banser adalah garda terdepan yang menolak sistem khilafah buta ala HTI.

Satu hal yang selalu ia bawa adalah, siapapun yang menentang sistem negara khilafah, berarti dia membenci kebangkitan Islam karena khilafah adalah nubuwah, keniscayaan yang dibawa dan dicontohkan oleh nabi. Akibatnya, ia menentang Pancasila dan menolak dengan keras penandatanganan kesediaan menerima pancasila sebagai ideologi negara. Penolakannya kemudian didramatisir dengan tajuk “pembubaran pengajian”. Percayalah, jika bukan karena Pancasila, Banser dengan sangat mudah melakukan kekerasan seperti Isis yang mengusung Khilafah. Beruntung masih ada Pancasila dan payung hukum UUD 45, meski HTI dilarang, anda masih bisa menghirup udara sejuk Indonesia yang notabene anda katakan sebagai negara Taghut.

KHILAFAH ALA NABI (nabi secara umum /Nabi Muhammad? style kepemimpinan beda lho)

Nabi Muhammad, ketika berada di Makah. Beliau tidak mawacanakan negara khilafah Makkah. Nabi Muhammad justru lebih memilih menuju Madinah yang memang masyarakatnya telah siap menerima Islam dengan antusias. Dari sini sangat jelas bagaimana perbedaan antara perjuangan nabi dengan perjuangan HTI dan konco – konconya. Jika meraka mengikuti nabi, maka kirimlah antek HTI ke beberapa negara, suruh mereka ceramah di negara – negara yang menerima Khilafah tanpa perlawanan, tanpa penolakkan dan tanpa kebencian. Lalu, pindahlah ke negara tersebut. Bukan justru menebar kebencian kepada pemerintah.

Madinah, kala itu dianggap sebagai kekhalifahan pertama di dunia, maka perlu dipahami bahwa ketika nabi mendirikan negara Madinah yang ditandai dengan persetujuan Madinah atau lebih dikenal sebagai صحیفة المدینه  shahifatul madinah atau konstitusi Madinah. Konstitusi inilah yang kemudian dianggap oleh para pengusung ideologi Khilafah sebagai masterpiece nya sistem negara khilafah dan dalil keharusan suatu negara bersistem khilafah.

Perlu dipahami bahwa konstitusi piagam Madinah ditulis karena adanya pertentangan antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj yang keduanya merupakan penyembah berhala bernama Manat. Kedua kabilah ini kerap berselisih paham dan seringkali terjadi peperangan diantara kedua belah kabilah. Bani Aus kemudian bersekutu dengan  Yahudi Bani Qurayzhah dan Bani Nadhir sementara Bani Khazraj bersekutu dengan yahudi  Bani Qaynuqa. Bani ‘Aus dan Bani Khazraj inilah yang disebut sebagai Kaum Ansor, pribumi asli Yatsrib yang menerima dengan sukarela para Muhajirin atau bahasa zaman now adalah non pribumi. Jadi, diskiminasi Pribumi dan Non Pribumi yang sempat di dengungkan oleh Proklamator Jakarta Bersyari’ah sebaiknya dihapus karena banyak non pribumi yang telah turut andil membangun bangsa termasuk Habib Riziq yang keturunan Arab, Mr Felix Siauw yang merupakan keturunan China.

Karena adanya pertentangan antara Bani Aus dan Khazraj itulah akhirnya Nabi membuat piagam Madinah untuk menghindari perpecahan diantara mereka. Tidak seperti jaman Now, Khilafah justru dipaksakan. Parahnya, dengan sangat jelas menaruh benih – benih kebencian kepada mereka yang tidak sepaham. Penggiringan opini melalui media gencar dilakukan; berita hoax dilancarkan untuk menyerang penentang Khilafah khususnya Ansor dan Banser. Khilafah Ala nabi ( jika Madinah disebut negara Khilafah ) di bangun atas dasar penerimaan baik dari kalangan penyembah berhala, Muslim Yahudi maupun umat lain untuk hidup secara berdampingan dalam satu payung regulasi. 

HTI dan sebala kurawanya menggaungkan Khilafah dengan mengganti Pancasila secara frontal. Sisi lain, warga negara Indonesia lain harus menerimanya. Jika memang ingin mendirikan Khilafah, maka tanyakan kepada golongan lain, mau atau tidak negara ini dibangun diatas dasar khilafah? Jika tidak mau, jangan kau paksakan karena nabi pun tak pernah memaksa sistem khilafah diterapkan di suatu daerah. Adapun khilafah yang dibuat oleh nabi ……adalah untuk mempersatukan bukan memecah belah dan pada saat itu. tidak MENYENTUH perbedaan pendapat tentang agama, tidak PULA madzhab fiqh yang seringkali dipertentangkan.

Khilafah Ala Khulafaur Rasyidin

Dalam Talk Show ILC, dikatakan bahwa bukti khilafah harus diterima adalah setiap tarawih, selalu disebut ” al kholifatul ula amirul mu’minin abu bakar syidiq” hingga Khalifah Ali Bin Abi Thalib. Saya akan mengembalikan kepada sejarah keempat khilafah ini.

Khilafah tidak akan terwujud tanpa adanya Khalifah yang memimpin. Sejarah dengan jelas menjelaskan bahwa dari keempat khilafah yang memimpin umat islam tersebut, tidak ada satupun sistem pemilihan khalifah yang baku. Abu bakar As-Shidiq di pilih dengan musyawarah Mufakat antara kaum Anshor dan Muhajirin. Umar Bin Khatab dipilih dengan sistem penunjukkan dari Abu bakar. Setelah Umar Bin Khatab ditikam oleh orang kafir, diujung kematiannya, Umar Bin Khatab menunjuk enam sahabat sebagai dewan syuro untuk menentukan siapa khalifah selanjutnya, dari hasil musyawarah itu, terpilihlah Usman bin Affan. Sementara Ali bin Ali Thalib, di dasarkan pada pendapat Ibnu Katsir dari ath-Thabari dan ahli sejarah lainnya mengatakan bahwa terpilihnya Ali bin Abi Thalid berdasarkan persetujuan ahlul halli wal aqdi di Madinah. Selepas kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, NEGARA dipimpin dengan sistem kerajaan hingga khilafah usmaniah berakhir.

Lalu, sistem pemilihan pemimpin yang mana yang akan dilaksanakan untuk menentukan Khalifah? Jika ingin menyatakan Khilafah, maka, ulama NU lah yang akan menadi Khilafah karena NU adalah ormas dengan pengikut terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Lalu, relakah para HTI mania menerima khalifah dari orang NU dan mengikuti sistem yang di anut NU baik dalam bidang Fiqh maupun aqidah?

lalu, mana sistem khilafah yang ustads Felix Siauw pamerkan? Fiqh mana yang akan di gunakan? Aqidah mana yang akan diterapkan? Mutasyabih? Mujasimah? Anti tahlil? Anti Maulidkah?

Jika khilafah didasarkan pada fiqh NU, mereka yang anti Maulid seperti Kholid Basalamah, Firanda dan kawan – kawannya akan memprotes anda. Jika Ustadz Felix Siauw yang terhormat menerapkan praktik Fiqh ala Salafi, maka apakah kuburan akan dihancurkan? Ziarah diharamkan? Tentunya, anda harus bersiap menghadapi tentangan dari  mereka yang mengamalkan tahlil seperti Buya Yahya, Abdus Shomad termasuk Habib Rizieq akan menolak dengan keras.

Lalu, mana yang akan dijadikan standar hukum khilafah nantinya? Saya tidak dapat membayangkan betapa terpecahnya negara ini ketika isu Khilafah kian kencang dihembuskan tanpa berfikir ushul nya. Jika BENAR Khilafah akan menerima segala praktik fiqh dari masing masing aliran, maka itu tidak lebih sekedar pemanis buatan yang ujung ujungnya merusak tubuh. Buktinya? lihat saja hujatan antek wahabi pada pengamal Tahlil di  Youtube, anda akan tahu kontradiksi dari mimpi khilafah.

Namun, Saya setuju khilafah ada, hanya jika fiqh NU yang diterapkan dan pemimpin NU yang menjadi Khalifah sebab, NU lah ormas Pribumi terbesar di dunia dan sangat berjasa untuk kemerdekaan bangsa ini, sementara HTI adalah ormas non pribumi yang dibawa dari negara Mesir. Jika mau mendengungkan isu Pribumi, maka tolak HTI yang merupakan ormas pendatang dan tidak punya andil apapun untuk bangsa ini.
( Bersambung )

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

It is main inner container footer text